Apa itu bertahan hidup?
Bertahan hidup bukan cuma soal tidak bunuh diri. Bertahan hidup adalah memilih cara hidup yang tidak menggoreskan luka yang kita punya ke orang lain. Bertahan hidup adalah menanggung sakit yang diwariskan kepada kita tanpa menjadikannya alasan untuk menyakiti orang lain.
Bokap gue tukang selingkuh. Secara psikologis gue adalah korban dari situasi itu. Banyak orang bilang anak sering mengulang pola yang sama dengan orang tuanya. Mungkin risikonya ada. Tapi sampai kapan pun gue tetap memilih menjadi perempuan yang berkomitmen pada satu orang.
Gue bangga sama pilihan itu. Gue bangga meskipun dunia menertawakan kesetiaan. Gue bangga meskipun banyak orang menganggap perselingkuhan hal biasa. Karena buat gue, selingkuh bukan kesalahan kecil. Itu bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan, terhadap pasangan, dan terhadap keluarga yang ikut menanggung akibatnya.
Gue tidak percaya luka masa kecil bisa dijadikan tiket bebas untuk menyakiti orang lain. Trauma bisa menjelaskan kenapa seseorang melakukan sesuatu, tapi tidak otomatis membenarkannya.
Kalau Lisa Mariana bilang jadi simpanan karena tidak punya sosok ayah, lah apa kabar gue yang tumbuh dengan kekurangan dan luka yang juga gak ringan? Gue ga berhak mengambil kebahagiaan orang lain karena hidup gue pernah hancur dan di fase yang sama.
Buat gue, keberanian bukan mencari pelarian dari luka dengan merusak keluarga orang lain. Keberanian adalah menghadapi luka itu, mengakuinya, lalu memutus rantainya. Jangan menjadi sama dengan orang yg membuat luka itu. Karena apa bedanya? Karena pada akhirnya, menjadi korban bukan pilihan. Tapi memilih menjadi pelaku, itu pilihan.
Dan banyak orang menganggap petualangan seksual sebagai sesuatu yang membanggakan. Tidur dengan pasangan orang lain, mencari sensasi dengan banyak pasangan, atau menjadikan kesetiaan sebagai bahan ejekan. Mereka menyebutnya kebebasan. Gue melihatnya sebagai krisis pengendalian diri. Bagaimana manusia lain sering diperlakukan seperti barang yang bisa dipakai bergantian tanpa memikirkan dampak emosional, keluarga yang hancur, atau kepercayaan yang dikhianati.
Berlaku untuk laki-laki maupun perempuan. Anehnya, ketika konsekuensi datang—hamil di luar rencana, perselingkuhan terbongkar, rumah tangga rusak, anak-anak terluka—baru semua orang sibuk mencari solusi. Padahal keputusan-keputusan itu bukan muncul tiba-tiba. Ada pilihan yang diambil berulang kali sebelum akhirnya menjadi masalah besar.
Lalu orang-orang yang sebenarnya tidak nyaman dengan budaya seperti itu, tetapi ikut-ikutan hanya agar diterima lingkungan. Seolah harga diri ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman seksual yang dimiliki. Bahkan ada laki-laki yang dibuat minder hanya karena tidak punya "rekam jejak" seksual yang panjang. Ukuran kedewasaan bukan berapa banyak orang yang pernah diajak tidur. Ukuran kedewasaan adalah kemampuan mengendalikan diri ketika kesempatan terbuka lebar. Karena karakter seseorang justru terlihat dari apa yang dia pilih saat tidak ada yang memaksanya untuk berbuat benar.
Gue tetap percaya bahwa kesetiaan, komitmen, dan tanggung jawab bukan sesuatu yang kuno. Justru itu yang membedakan manusia dari sekadar mengikuti dorongan sesaat.
Secara psikologis dengan segala kekurangan yang gue alami sejak kecil, mungkin banyak orang mengira jika dewasa gue tumbuh menjadi orang yang tidak punya empati, tidak tahu cara mengasihi, dan tidak punya hati. Tapi faktanya justru berbanding terbalik.
Dari kecil gue sadar kalau sensitif. Gak bisa melihat orang susah di jalan pasti gue tolong sebisa mungkin. Sampai saat ini pun dan kalau bukan karena Tuhan, gue gak tahu dari mana hati itu datang.
Gue adalah pendonor kornea mata, dan gue bahagia banget dengan keputusan itu. Di luar sana masih banyak orang yang takut menjadi pendonor. Gue sendiri mendaftar tanpa meminta restu orang tua.
Buat apa?
Orang tua gue saja tidak bertanggung jawab atas kelahiran dan kehidupan gue. Untuk apa gue meminta izin atas keputusan yang menyangkut tubuh dan nilai hidup gue sendiri?
Yang pasti, gue sudah membawa keputusan itu dalam doa. Dan gue merasa Tuhan menjawabnya dengan damai di hati gue.
Gue juga lebih memilih merayakan ulang tahun bersama anak-anak panti asuhan daripada sekadar jalan-jalan ke mal. Dan setiap kali gue bertemu mereka, gue seperti melihat sebagian diri gue sendiri.
Gue sering bertanya, kenapa mereka bisa berada di sana?
Ada yang ditinggalkan ayahnya. Ada yang tumbuh dengan kekerasan. Ada yang tidak diberi nafkah. Ada yang lahir dari hubungan yang tidak bertanggung jawab. Dan dari sekian banyak cerita yang gue dengar, satu pola yang terus berulang adalah: ayah mereka masih bernapas, tetapi perannya sudah mati.
Karena itu gue sering merasa miris ketika ada orang yang memperingatkan laki-laki untuk tidak berpacaran atau menikahi perempuan yang fatherless. Seolah-olah luka itu adalah kesalahan anaknya.
Padahal yang gagal menjalankan peran adalah orang tuanya.
Aneh ya.
Anak yang menanggung stigma, sementara orang dewasa yang menciptakan luka sering kali lolos dari pertanyaan yang sama.