Malam itu, di kamar tidur kita berdua yang remang-remang hanya diterangi lampu tidur kecil,
gw dan suami gw baru saja selesai bercinta dengan penuh gairah. hb, seperti biasa, sangat lembut
tapi kuat—menggoyang pinggul gw perlahan lalu semakin cepat sampai gw menjerit kecil dan
mencakar punggungnya. gw yang sedang hamil 8 bulan memang lebih sensitif; setiap sentuhan
terasa berlipat ganda, setiap dorongan membuatnya langsung menggigil.
Setelah orgasme terakhir yang membuat gw mengejang hebat sambil memeluk erat leher suami gw,
kita berdua ambruk ke kasur dalam kelelahan yang nikmat. hb gw mencium kening gw ,
“I love you, sayang,” lalu memeluk gw dari belakang.
Tak sampai lima menit, napas kita sudah teratur dan kita tertidur pulas.
Tengah malam.
gw terbangun setengah sadar, badan gw terasa panas sekali. gw merasakan ada sesuatu yang
bergerak di antara paha gw. Berat. Besar. Sangat besar.
“Mas…?” gumamnya pelan, masih setengah mimpi.
Tapi yang menjawab bukan suara hb w.
Ada tekanan kuat di pintu masuk vagina w. Sesuatu yang jauh lebih besar dari milik suami gw,
mendorong masuk perlahan tapi pasti. gw tersentak, mata gw terbuka lebar—tapi pandangan gw
buram, gelap, seperti masih terperangkap di alam mimpi. gw hanya bisa merasakan.
Kontol itu… besar. Panjangnya sepertinya tak ada habisnya, besarnya membuat bibir vagina gw terasa
meregang sampai batas nyeri yang justru terasa enak luar biasa. Saat ujungnya menyentuh leher
rahim yang sudah turun karena kehamilan, gw langsung menjerit kecil dan langsung orgasme
pertama—tanpa peringatan, tanpa foreplay, hanya dari penetrasi itu saja.
“Mas… kok… kok gede banget…” desah gw, tangan gw meraba ke belakang mencari tubuh hb w.
Tapi yang gw pegang bukan pinggang hb w yang biasa. Kulitnya terasa lebih kasar, lebih panas,
lebih… besar. Tubuh di belakangya terasa seperti tembok hidup—tinggi, lebar, berotot keras.
Napasnya berat dan dalam di tengkuk gw.
Entitas itu tidak bicara. Hanya mendorong lebih dalam lagi, keluar separuh, lalu masuk penuh
dengan satu hentakan kuat. gw menjerit lagi, kali ini lebih keras, tapi suara gw tertahan oleh bantal
yang gw gigit. Orgasme kedua datang lebih cepat, lebih ganas—cairan hangat membanjiri paha gw
sendiri, rahim gw berkontraksi kuat mencoba “menggigit” benda asing yang terlalu besar itu.
gw masih mengira itu suami gw.
“Mas… pelan… baby kita… ahhh!” kata gw terbata-bata di sela isakan kenikmatan.
Tapi sosok itu tidak pelan. Malah semakin brutal. Setiap hentakan membuat perut gw yang
membuncit bergoyang-goyang, payudara gw yang penuh ASI bergetar keras. Kontol raksasa itu
terus menghantam leher rahim gw seperti palu godam—dalam, dalam sekali, sampai gw merasa
seperti akan robek, tapi justru membuat gw klimaks lagi dan lagi.
Ketiga. Keempat. Kelima.
gw sudah kehilangan hitungan. Tubuh gw hanya getaran dan cairan. Kak gw lemas tak berdaya,
tangan gw mencengkeram sprei sampai. Di antara kabut kenikmatan yang membingungkan, gw
sempat berpikir: “Kok Mas bisa segila ini malam ini…?”
Sosok itu akhirnya mengerang pelan—suara yang dalam, menggelegar, sama sekali bukan suara
Saputra. Lalu dia mendorong sangat dalam sekali, menempelkan selangkangannya ke bokong
gw, dan melepaskan segalanya.
Semburan panas yang sangat banyak mengguyur rahim gw. Begitu banyak sampai perut gw terasa
membengkak lebih lagi, seperti ada suntikan cairan panas yang tak ada habisnya. gw orgasme
terakhir yang paling parah—mata gw membelalak, mulut terbuka lebar tanpa suara, tubuh gw
mengejang keras beberapa detik sebelum akhirnya ambruk tak bergerak.
Sosok itu menarik diri perlahan. gw merasakan cairan hangat mengalir deras dari vagina gw,
membasahi sprei. gw masih setengah sadar, napas tersengal, pikirannya kacau.
Saat kesadaran gw perlahan kembali, gw meraba ke samping.
suami gw masih tertidur pulas di sisi gw—posisi persis seperti tadi, memeluk bantal, mendengkur pelan.
gw menunduk ke bawah. Selangkangan gw basah kuyup, vagina gw masih berdenyut-denyut,
merah dan membengkak. Ada cairan putih kental yang mengalir keluar perlahan—jauh lebih
banyak daripada yang biasa suami gw keluarkan.
gw gemetar.
“Ya Tuhan… itu tadi… apa…?”
Tapi tubuh gw terlalu lelah, terlalu puas, terlalu hancur nikmat untuk berpikir lebih jauh. gwhanya
bisa menarik selimut, memeluk perut gw yang membuncit, dan kembali terlelap—masih dengan
perasaan penuh, basah, dan anehnya… sangat bahagia.
Di sudut kamar yang gelap, sesosok tinggi besar itu hanya diam memperhatikan, sebelum akhirnya
lenyap seperti asap.