Deusfatamealudibriohabet
Semprot Kecil
Aku masuk ke Google
Jari-jariku gemetar mengetik kata
Takut Tuhan melihat tapi aku pun tau Ia melihatnya
“pacar sewaan"
Aku yang tak pernah ikut teman-teman mabuk,
tak pernah menari untuk pelarian,
tak pernah tidur sembarangan.
Aku lahir bukan dari asap rokok
tidak dari gelas pecah dan musik club
Aku lahir dari buku tulis dan uang kuliah yang selalu kurang.
Aku tidak mencari cinta bahkan tidak mengerti,
Aku mencari kwitansi lunas.
Lalu menemukan sesuatu yang di sebut forum,
Awalnya hanya forum sunyi,
tulisan-tulisan bersih tak ada darah, tak ada bau dosa.
Lalu waktu membuka topengnya pelan-pelan.
Lelaki pertama yang menyentuh hidupku adalah Lintang—
bukan transaksi,
bukan jadwal,
bukan amplop cokelat.
Berbulan-bulan aku membeku.
Tidak masuk forum itu.
Tidak melangkah.
Aku membayangkan
tubuhku direbahkan
oleh seseorang yang tak kukenal,
lalu di akhir diberi tumpukan uang—
dan aku tahu:
itu bukan bayaran,
itu uang duka.
Aku dikejar angka
bukan oleh mimpi.
Nominal semester berlari di belakangku seperti anjing lapar
menggonggong tanggal jatuh tempo.
Skripsi menunggu karena ilmu pun minta bukti:
lunas dulu baru kau boleh bermimpi.
Aku tidak melanjutkan diri ke forum,
tidak membuka pintu pada pilihan-pilihan busuk.
Tapi hidup menutup semua jalan
kecuali satu lorong sempit
yang membuatku muak pada cermin.
Akhirnya aku menjual tubuhku
bukan diriku,
Karena dunia tak peduli
yang penting tagihan terbayar.
“Lagian aku sudah tidak perawan.”
Seolah nilai manusia berakhir di selaput dan bukan di jiwa yang berteriak.
Memang, tubuhku tak menangis.
Tapi pikiranku gila membayangkan tidur dengan orang yang bukan siapa-siapa.
Bahkan dengan pasangan pun aku tak ingin karena ranjang bukan bahasa cintaku.
Tidak diperdagangkan.
Aku belajar satu hal:
yang paling menyakitkan ketika hidup
memaksa mengkhianati apa yang ku yakini suci.
Dan aku masih berdiri.
Kotor oleh keadaan bukan oleh pilihan hati.
Aku masuk ke sana dengan kaki yang gemetar,
Ke dunia lendir yang membuat logikaku terbakar.
Shock menatap layar, melihat raga-raga yang dijajakan,
Seperti pasar daging tanpa sedikit pun kehormatan.
Dahulu aku pikir ini hanyalah sebuah mitos kelam,
Kini aku melihatnya nyata, tenggelam dalam malam yang tajam.
Aku melihat mereka, dan rasa mual itu naik ke hulu,
Menjual tubuh dengan cara yang tak pernah masuk di akalku.
Tempat pembuangan dijadikan muara syahwat yang gila,
Satu raga dikepung banyak tangan, sungguh sebuah cela.
"Aku butuh angka," bisikku pada cermin yang berdebu,untuk toga yang kutunggu.
Aku tidak rela, demi Tuhan, jiwaku menjerit menolak,
Tapi biaya kuliah ini seperti pisau yang terus mendesak.
Aku menahan diri, memilah mana yang sanggup kujual,
Judul film hidupku sudah tertulis:
"Aku menjual raga karena bangku kuliahku terbuka."
Karena si bangsat itu—
Lelaki yang harusnya jadi pelindung, tapi membuangku ke batu.
Dia yang tak pernah memberiku nafkah sejak aku masih bayi,
Memaksaku berdiri di pasar ini, menukar diri demi sebuah toga.
Dahulu, Lintang telah mengambil apa yang paling berharga,
Membuat impian tentang kesucian untuk suami menjadi hampa.
Menghitung harga sebuah kehormatan yang kini menjadi materi.
Berapa harganya? Sepuluh juta? Lima puluh juta?
Angka-angka itu menari di atas luka yang nyata.
Meski aku di sini, aku tetap memegang kendali,
Hanya aku yang tahu, betapa mahalnya harga sebuah sarjana.
Pintu itu berderit, suara kunci otomatis yang mengunci duniaku di luar.
Laki-laki itu berdiri di sana, orang pertama yang membeli apa yang tersisa,
Setelah Lintang menghancurkan gerbang kesucianku tanpa sisa.
Aku menatapnya bukan dengan gairah, tapi dengan hitungan kalkulator,
Melihatnya bukan sebagai manusia, tapi sebagai d0natur (jadi d0natur HANYA melalui admin team, BUKAN lewat staff lain) bagi masa depanku yang kotor.
Aku muak melihat tangannya, aku benci mencium aroma tubuhnya,
Namun bayangan toga di kepalaku membuatku tetap diam membatu di sana.
Saat ia menindihku, aku membayangkan wajah si bajingan itu—
Ayahku, yang membiarkanku membusuk demi ijazah yang ku tuju.
"Pinjam dulu sama siapa kek," suaranya terngiang di sela desah napas asing,
Membuat hatiku semakin mengeras, lebih dingin dari lantai porselen yang hening.
Ini adalah adegan seks paling sunyi yang pernah ada,
Tanpa cinta, tanpa rasa, hanya keringat dan angka yang berbeda.
Aku menghitung detik, menatap langit-langit kamar yang putih hampa,
Berharap waktu melompat jauh ke hari di mana aku tak perlu lagi berjumpa—
Dengan pria-pria yang membeli waktu hanya untuk memuaskan lapar,
Sementara aku di sini bertaruh nyawa agar hidupku tak berakhir terkapar.
Dia selesai. Dia berpakaian. Dia meletakkan amplop di atas meja.
Bau uangnya bercampur dengan bau pengkhianatan yang kurasa.
Aku segera mengunci diri di kamar mandi, menyalakan air paling panas,
Mencoba menggosok jejaknya hingga kulitku memerah dan lemas.
Setiap pulang dari kampus, aku membuka ponsel dan melihat PM yang masuk,
Membayangkan malam-malam selanjutnya yang akan membuat jiwaku remuk.
Aku bukan mereka yang bermain dengan banyak orang karena suka,
Aku adalah tawanan keadaan yang sedang memahat jalannya menuju merdeka.
Tak ada cinta di sini, tak ada nafsu yang benar-benar kubagi,
Setiap lembar uang yang kukumpulkan adalah paku untuk peti mati.
Aku akan wisuda. Aku akan memakai toga itu dengan sangat tidak bangga,
Dan saat itu tiba, aku akan menatap si bajingan dan berkata:
"Aku sarjana bukan karena kau tapi kau yang merusak masa depanku. bajingan sialan baiknya masuk neraka.
Jari-jariku bergerak lincah di atas layar ponsel, saat membalas pesan-pesan di forum,
Seperti seorang pialang saham yang sedang melakukan trading dengan maut. Setiap pertemuan adalah satu bab skripsi yang terbayar. Setiap client adalah satu SKS yang tuntas. Aku sedang membangun menara gading intelektualku di atas pondasi lendir yang menjijikkan.
Jari-jariku gemetar mengetik kata
Takut Tuhan melihat tapi aku pun tau Ia melihatnya
“pacar sewaan"
Aku yang tak pernah ikut teman-teman mabuk,
tak pernah menari untuk pelarian,
tak pernah tidur sembarangan.
Aku lahir bukan dari asap rokok
tidak dari gelas pecah dan musik club
Aku lahir dari buku tulis dan uang kuliah yang selalu kurang.
Aku tidak mencari cinta bahkan tidak mengerti,
Aku mencari kwitansi lunas.
Lalu menemukan sesuatu yang di sebut forum,
Awalnya hanya forum sunyi,
tulisan-tulisan bersih tak ada darah, tak ada bau dosa.
Lalu waktu membuka topengnya pelan-pelan.
Lelaki pertama yang menyentuh hidupku adalah Lintang—
bukan transaksi,
bukan jadwal,
bukan amplop cokelat.
Berbulan-bulan aku membeku.
Tidak masuk forum itu.
Tidak melangkah.
Aku membayangkan
tubuhku direbahkan
oleh seseorang yang tak kukenal,
lalu di akhir diberi tumpukan uang—
dan aku tahu:
itu bukan bayaran,
itu uang duka.
Aku dikejar angka
bukan oleh mimpi.
Nominal semester berlari di belakangku seperti anjing lapar
menggonggong tanggal jatuh tempo.
Skripsi menunggu karena ilmu pun minta bukti:
lunas dulu baru kau boleh bermimpi.
Aku tidak melanjutkan diri ke forum,
tidak membuka pintu pada pilihan-pilihan busuk.
Tapi hidup menutup semua jalan
kecuali satu lorong sempit
yang membuatku muak pada cermin.
Akhirnya aku menjual tubuhku
bukan diriku,
Karena dunia tak peduli
yang penting tagihan terbayar.
“Lagian aku sudah tidak perawan.”
Seolah nilai manusia berakhir di selaput dan bukan di jiwa yang berteriak.
Memang, tubuhku tak menangis.
Tapi pikiranku gila membayangkan tidur dengan orang yang bukan siapa-siapa.
Bahkan dengan pasangan pun aku tak ingin karena ranjang bukan bahasa cintaku.
Tidak diperdagangkan.
Aku belajar satu hal:
yang paling menyakitkan ketika hidup
memaksa mengkhianati apa yang ku yakini suci.
Dan aku masih berdiri.
Kotor oleh keadaan bukan oleh pilihan hati.
Aku masuk ke sana dengan kaki yang gemetar,
Ke dunia lendir yang membuat logikaku terbakar.
Shock menatap layar, melihat raga-raga yang dijajakan,
Seperti pasar daging tanpa sedikit pun kehormatan.
Dahulu aku pikir ini hanyalah sebuah mitos kelam,
Kini aku melihatnya nyata, tenggelam dalam malam yang tajam.
Aku melihat mereka, dan rasa mual itu naik ke hulu,
Menjual tubuh dengan cara yang tak pernah masuk di akalku.
Tempat pembuangan dijadikan muara syahwat yang gila,
Satu raga dikepung banyak tangan, sungguh sebuah cela.
"Aku butuh angka," bisikku pada cermin yang berdebu,untuk toga yang kutunggu.
Aku tidak rela, demi Tuhan, jiwaku menjerit menolak,
Tapi biaya kuliah ini seperti pisau yang terus mendesak.
Aku menahan diri, memilah mana yang sanggup kujual,
Judul film hidupku sudah tertulis:
"Aku menjual raga karena bangku kuliahku terbuka."
Karena si bangsat itu—
Lelaki yang harusnya jadi pelindung, tapi membuangku ke batu.
Dia yang tak pernah memberiku nafkah sejak aku masih bayi,
Memaksaku berdiri di pasar ini, menukar diri demi sebuah toga.
Dahulu, Lintang telah mengambil apa yang paling berharga,
Membuat impian tentang kesucian untuk suami menjadi hampa.
Menghitung harga sebuah kehormatan yang kini menjadi materi.
Berapa harganya? Sepuluh juta? Lima puluh juta?
Angka-angka itu menari di atas luka yang nyata.
Meski aku di sini, aku tetap memegang kendali,
Hanya aku yang tahu, betapa mahalnya harga sebuah sarjana.
Pintu itu berderit, suara kunci otomatis yang mengunci duniaku di luar.
Laki-laki itu berdiri di sana, orang pertama yang membeli apa yang tersisa,
Setelah Lintang menghancurkan gerbang kesucianku tanpa sisa.
Aku menatapnya bukan dengan gairah, tapi dengan hitungan kalkulator,
Melihatnya bukan sebagai manusia, tapi sebagai d0natur (jadi d0natur HANYA melalui admin team, BUKAN lewat staff lain) bagi masa depanku yang kotor.
Aku muak melihat tangannya, aku benci mencium aroma tubuhnya,
Namun bayangan toga di kepalaku membuatku tetap diam membatu di sana.
Saat ia menindihku, aku membayangkan wajah si bajingan itu—
Ayahku, yang membiarkanku membusuk demi ijazah yang ku tuju.
"Pinjam dulu sama siapa kek," suaranya terngiang di sela desah napas asing,
Membuat hatiku semakin mengeras, lebih dingin dari lantai porselen yang hening.
Ini adalah adegan seks paling sunyi yang pernah ada,
Tanpa cinta, tanpa rasa, hanya keringat dan angka yang berbeda.
Aku menghitung detik, menatap langit-langit kamar yang putih hampa,
Berharap waktu melompat jauh ke hari di mana aku tak perlu lagi berjumpa—
Dengan pria-pria yang membeli waktu hanya untuk memuaskan lapar,
Sementara aku di sini bertaruh nyawa agar hidupku tak berakhir terkapar.
Dia selesai. Dia berpakaian. Dia meletakkan amplop di atas meja.
Bau uangnya bercampur dengan bau pengkhianatan yang kurasa.
Aku segera mengunci diri di kamar mandi, menyalakan air paling panas,
Mencoba menggosok jejaknya hingga kulitku memerah dan lemas.
Setiap pulang dari kampus, aku membuka ponsel dan melihat PM yang masuk,
Membayangkan malam-malam selanjutnya yang akan membuat jiwaku remuk.
Aku bukan mereka yang bermain dengan banyak orang karena suka,
Aku adalah tawanan keadaan yang sedang memahat jalannya menuju merdeka.
Tak ada cinta di sini, tak ada nafsu yang benar-benar kubagi,
Setiap lembar uang yang kukumpulkan adalah paku untuk peti mati.
Aku akan wisuda. Aku akan memakai toga itu dengan sangat tidak bangga,
Dan saat itu tiba, aku akan menatap si bajingan dan berkata:
"Aku sarjana bukan karena kau tapi kau yang merusak masa depanku. bajingan sialan baiknya masuk neraka.
Jari-jariku bergerak lincah di atas layar ponsel, saat membalas pesan-pesan di forum,
Seperti seorang pialang saham yang sedang melakukan trading dengan maut. Setiap pertemuan adalah satu bab skripsi yang terbayar. Setiap client adalah satu SKS yang tuntas. Aku sedang membangun menara gading intelektualku di atas pondasi lendir yang menjijikkan.














