Pagi itu matahari baru saja menyembul di timur, sinarnya lembut menyusup lewat celah-celah daun pisang di belakang rumah. Udara masih sejuk, bau tanah basah campur embun pagi menusuk hidung. Istriku sudah tak kuat lagi menahan sakit perut yang datang setiap subuh seperti tikaman pisau. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi, tangannya memegang perut sambil meringis pelan. Aku tak tahan melihatnya begitu, akhirnya aku bilang, “Kita ke mbah sekarang juga.”
Kami berjalan pelan menyusuri gang sempit menuju gubuk kecil Mbah di belakang rumah kami sendiri—hanya beberapa langkah dari dinding belakang. Gubuk itu reyot, atapnya daun nipah sudah lapuk, tapi di situ Mbah selalu menunggu dengan sabar. Begitu sampai, Mbah langsung menyambut tanpa banyak bicara. Matanya menatap istriku lama, lalu menggeleng pelan. “Ada yang menyalahi, Nak. Sudah merasuk dalam-dalam. Harus segera dibersihkan.”
Mbah mengambil baskom kecil dari sudut gubuk—baskom alumunium yang biasa dipakai cuci piring, tapi pagi itu berisi air jernih yang sudah ditetesi kembang tujuh rupa: melati putih, kenanga kuning, sedap malam merah muda, kamboja, dan beberapa kuntum lagi yang harumnya memenuhi gubuk sempit itu. Airnya terlihat berkilauan samar di bawah sinar pagi yang masuk lewat celah dinding anyaman bambu.
“Istriku disuruh ganti dulu pakai jarik,” kata Mbah pelan. Aku membantu istriku melepas baju tidurnya yang basah keringat, lalu membungkus tubuhnya dengan jarik batik lusuh yang sudah Mbah siapkan. Jarik itu terlalu besar, jatuh sampai menjuntai di tanah, tapi istriku hanya diam, matanya berkaca-kaca karena malu sekaligus takut. Aku memeluk pundaknya erat, berbisik, “Tenang ya, Sayang… Mas di sini.”
Mbah menyuruh istriku duduk bersimpuh di atas anyaman tikar pandan yang sudah lusuh. Baskom kecil itu diletakkan di depannya. Mbah mulai menuang air perlahan dari gayung bambu kecil—setetes demi setetes dulu, lalu semakin deras. Setiap guyuran, Mbah melantunkan doa panjang dengan suara serak khas orang tua, tangannya mengusap kepala istriku sambil meniupkan napas hangat ke ubun-ubun.
Istriku menjerit pelan setiap air menyentuh kulitnya, tubuhnya bergetar hebat seolah ada sesuatu yang meronta keluar dari dalam perutnya. Air bercampur kembang mengalir deras ke tanah tanah gubuk, warnanya berubah jadi kelabu kehitaman di ujung-ujungnya—seperti membawa pergi racun yang selama ini menggerogoti. Aku berlutut di belakangnya, memeluk pinggangnya erat, menahan isak tangis. “Ya Allah… lepaskan dia, lepaskan istriku dari kegelapan ini,” gumamku berulang-ulang.
Guyuran terakhir selesai. Mbah meniupkan napas terakhir ke wajah istriku, lalu berbisik, “Sudah lepas… tapi yang benci masih dekat, hati-hati.” Istriku ambruk ke pelukanku, napasnya tersengal, tapi matanya yang tadinya sayu kini mulai berbinar lagi. Dia memegang tanganku erat, suaranya lirih tapi penuh harap, “Mas… sakitnya hilang… beneran hilang.”
Aku memeluknya erat di gubuk kecil itu, di bawah sinar pagi yang semakin terang. Air mata kami jatuh bersama ke tanah yang masih basah oleh air kembang. Di belakang rumah sendiri, di pagi yang seharusnya biasa, aku baru sadar: kadang kesembuhan datang bukan dari dokter, tapi dari perjuangan yang tak terlihat, dan cinta yang tak pernah menyerah.