GELISAHKU
Kepada sepinya malam...
Kubaringkan jiwa resahku, mengintai kelamnya hidup, mengeringkan air yang terluruh dipelupuk gundahku.
Aku ingin berkata...
Betapa cintaku telah kau cabik dengan tajamnya taring pengkhianatanmu.
Aku dan kau, bukanlah jiwa-jiwa suci.
Namun bisakah menjauh dari noda?
Cobalah sejenak kau renungi,
Benarkah rasa cemburuku telah merusak senimu dalam mencintaiku?
Benarkah langkah salahmu kau anggap seni?
Benarkah memilih cintai lain adalah seni bagimu?
Dengarlah hai malam kelam...
Ingin kuhukum kegelapan yang kau cipta.
Ingin ku musnahkan asaku yang pernah ku gores untukmu, sebuah harap akan seberkas sinar
Ketika pagi menjelang,
Ketika cahaya itu menerpa,
Masihkah boleh aku menyanjung cintamu?
Masih bolehkah aku menikmati cahayamu?
Indah terdengar bisik maafmu, seiring nada rindumu untuk hati yang lain...
Kini..., aku mulai memahaminya, malam...
Kau sedang menghapus rasa cintaku untukmu...
Kau sedang mengubur kasih sayangku untukmu...
Kau berharap bukanlah aku disini,
Menemanimu, mendekapmu, merinduimu, mengasihimu...
Ada dia, yang kau harap, yang kini telah mengisi hatimu...
Baiklah, malam...
Aku akan perlahan pergi,
Menjauh dari bayang cintamu,
Mencoba mencari tempat berlabuh lain,
Sebelum dermaga dihatimu tak lagi mau menerimaku...
Biarlah kau kini menemaniku, malamku...
Biarlah kau memberi sekilas senyum untukku,
Tapi suatu hari nanti,
Kita akan tahu,
Cinta siapakah yang tulus...