^^ oh berarti sama ya ciri2 manusia harimau di seluruh nusantara soalnya di daerahku di pantai slatan jawa barat ada juga cerita kaya gtu,percis bgt ciri2nya.yg paling ane inget ya itu yg slalu pake slempang atw sarung soalnya di daerah yg di blakang masjid tuh dlu wkt santer berita pembantaian dukun santet daerah itu trmasuk salah satu daerah tmpt eksekusi para dukun santet dan di seret dr sana smp terminal dan di bakar di tengah trminal"
Kita2 cuman mikir apa smuanya brhubungan ya
Wah serem euy..trnyata mirip2 ya legenda manusia harimaunya..
Tapi binatang harimau itu sendiri, tanpa embel2 gaib perpaduan dengan sosok manusia jg tetep aja punya sisi magis.
Cerita Oom gw, taun 80 an, juga di pelosok hutan di daerah sumatra selatan, ada kejadian serem soal sang raja hutan yg sesungguhnya.
Kejadian waktu dia jadi pekerja perintis (ngebuka jalur baru untuk logistik atau pipanisasi) Pertamina di sana.
Ada 8 orang anggota team dia waktu itu, setelah merintis beberapa kilometer ( 6 hari), mereka sampe di pinggiran desa di kaki bukit.Mereka harus ngelewatin sungai untuk ketemu team lain di pos selanjutnya.
Setelah berhasil ketemu orang desa yg mau nganterin berikut nyewa perahu geteknya (perahu ukuran sedang dengan mesin), Oom gw dan team mulai berangkat sore harinya.
Untuk menuju pos yg dimaksud, perjalanannya sekitar 3 jam, hari beranjak gelap, yang cuma terlihat pepohonan gelap hutan di sepanjang jalur sungai.
Menjelang magrib biasanya hutan rada rame dengan suara hewan. Mulai dari suara Uwa (sejenis monyet dgn janggut putih), burung, jangkrik, macem2. Tapi begitu masuk di satu alur yg agak tenang (mungkin lebih dalem sungainya), suasana tiba2 sepi.
"Jangan banyak bicara dan pandangan lurus ke depan, kalo mau liat sebentar, liatlah ke arah kiri, di bawah batang duren besar." kata orang desa yg nganterin itu.
Oom dan temen2nya saling berpandangan, si bapak ini dari tadi gak banyak omong, sekalinya bicara kok serem gitu.
Mereka pada noleh ke kiri, penasaran, bener aja, di bawah pohon duren tua itu, ada sesosok harimau besar, duduk dengan tenang. Penampakanya masih jelas berkat sisa2 cahaya matahari yg siap tenggelam waktu itu. Kalo pake istilah manusia, kesan berwibawa dan menggentarkan nyali nya kuat banget.
Matanya tajem, bau khas si raja hutan ini seperti kambing bandot, samar2 kecium di hidung, jarak mereka ke arah sang raja hutan ini kurang dari 10 meter. Oom gw sampe reflek ngegeser duduknya ke sisi kanan perahu, saking terpukau dan takutnya.
"Sudah..jangan di liat terus, liat ke depan saja .." Kata si bapak yg duduk tenang di tengah sambil megang kemudi.
Satu jam kemudian, sudah lebih dari separuh perjalanan, si bapak org desa ini mulai gelisah. Berkali2 dia menatap tajem ke pinggir sungai di sebelah kiri.
"Kenapa Pak..." Tanya Oom gw merhatiin si bapak.
"Ehmm..hhmm....harimau tadi.." Jawab dia sambil berdehem ngelegain tenggorokanya yg seperti tercekat.
"Entah kenapa..masih ngikutin kita.."
"Hah? ..bener pak ?? " Kata Oom gw kaget.
"Benar..entah apa ini..mungkin ada salah satu dari kalian yg dia tunggu.."
Sebagai kepala team, Oom gw jadi was2 mikirin keselamatan anggota team, dia langsung interogasi si bapak.
" Di desa kami..ini bukan omong kosong ..sudah banyak buktinya, Datuk tidak suka dengan orang culas, perangai buruk, suka berzinah.." Jawab dia, nadanya jadi sinis gitu.
"Maap cakap..mungkin ada diantara kalian yang begitu.."
Semua orang jadi gelisah, dan gak lama kemudian, memang bener, dari cahaya bulan purnama malem itu, sekelabatan ada sosok harimau yg menyelinap di balik pohon di sisi hutan.
Lebih serem lagi tiba2 ada suara auman menggelegar, suara mesin getek aja kalah kerasnya. kata Oom gw, sekeping papan yg dia dudukin itu serasa ikut bergetar.
"Benar kan? " Kata si bapak dengan nada panik sambil ngarahin kemudi supaya posisi perahu lebih ke arah kanan..
"Terus bagaimana pak..posisi kita aman kan di dalam perahu ini.."
"Tak ada yg aman pak kalau dia sudah berniat.."
Suasana bener2 mencekam, untungnya jauh di ujung sana, diantara gugusan bukit di depan, mulai ada beberapa titik cahaya lampu.
"Sudah terlihat tempat tujuan kalian..sayangnya arahnya di sebelah kiri kita pula ya.."
"Iya pak..terus gimana.."
Si bapak diam, sepertinya lagi mikir, sekali2 pandanganya bergantian ke satu persatu wajah para penumpangnya
"Coba kau ambil lampu minyak itu ke sini.."
Oom gw nyuruh temen yg duduk di depan untuk ngambil sejenis lampu kapal jadul di haluan perahu.
"Coba satu2 kalian periksa, masing2 buka pakaian di bagian punggung.."
"Untuk apa pak?? "
"Sudahlah turut saja.." Jawab si bapak tegas
Mereka nurutin perintah si bapak, satu sama lain meriksa bagian punggungnya di balik baju dengan bantuan cahaya lampu itu.
" Nah ..kau yg terakhir diperiksa..sudah lama ada tanda bulatan hitam di punggungmu itu? "
Oom gw bilang, tanda memar merah kehitam2an itu sebesar telapak tangan, posisinya dibagian kiri punggung temen si Oom..
"Ba..baru tau ini pak...sebelumnya tak pernah ada.." Kata temennya Oom gw ini, namanya Kahar.
"..hhhhh...berarti kau yg dia incar.. sudah sering aku liat yg macam itu .." Jawab si bapak gelisah.
"Kenapa aku?? " Tanya kahar ketakutan.
"Mungkin ada yg salah kau kerjakan baru2 ini.."
" Har..jangan2 kau beneran maen gila dengan janda di desa Batang Arau itu.." Kata temen oom gw, itu nama desa yg beberapa hari sebelumnya mereka lewatin dan sempet nginep 2 malem di sana.
" Iya Har ?? " Tanya Oom gw.
" Hhhhh...iyah..." Jawab Kahar sambil tertunduk lesu.
"Matilah kita.." Kata Oom gw sambil ngegeprak pinggiran perahu di sampingnya.
"Tidak..cuma dia yg dalam bahaya.." Kata si bapak sambil ngelirik Kahar.
"Lantas bagaimana ini pak?? " Jawab Oom gw ngawatirin anak buahnya.
Si Bapak diam beberapa saat..
" Begitu turun nanti...kau (sambil nunjuk ke arah Kahar), berucaplah sama datuk, mau kau liat dia atau tidak, minta maaf lah sudah kau kotori wilayah ini, sungguh2lah, jangan main2..kalau kau selamat..berarti dia kasih kau ampun..-itu saja.."
"Dan kalian juga..simpan parang2 (golok panjang) itu, jangan terlihat digenggam tangan kalian, datuk tak suka ditantang, percuma juga mau melawan.."
Kata Oom gw, si bapak kayak tau aja yg dia pikirin, padahal itu satu2nya cara mereka bersiap dengan kemungkinan terburuk begitu turun ke darat.
Sekitar belasan menit kemudian mereka sampe di tujuan, harus sedikit mendaki untuk sampai pos yg di maksud. Jaraknya sekitar 50 meteran dari pinggir sungai.
Kata Oom gw, begitu turun ke darat, sambil duduk bersimpuh, si Kahar ini sampe nangis2 minta maaf, kayak orang gak waras ngomong sendiri ke arah hutan. Lalu sesudahnya, mereka setengah berlari mendaki dan sampe ke pos kemudian. Untungnya selamet.
Oom gw noleh sebentar ke arah sungai, perahu yg mereka tumpangin tadi sudah olah gerak berputar ke arah mereka dateng tadi. Sayangnya dia lupa ngucapin terimakasih dengan si bapak desa itu saking paniknya dengan teror sang Datuk.