myNameLaura
Semprot Holic
Aku datang ke forum ini bukan karena lapar tubuh.
Aku datang karena ada bagian dalam diriku yang lama kelaparan
kelaparan akan kehadiran.
Di luar, hidupku terlihat utuh.
Pendidikan ada. Pekerjaan ada. Keluarga pun baik-baik saja.
Tapi batinku sering kosong, seperti rumah yang lampunya menyala
namun tak ada orang di dalamnya.
Dulu, saat karierku berada di puncak,
kesepian itu bisa kubeli.
Dengan kopi mahal, perjalanan jauh,
dengan tawa di bar dan musik keras yang menenggelamkan sunyi.
Uang menjadi penutup yang rapi untuk lubang yang tak pernah sembuh.
Aku hidup dengan ADHD. Dengan depresi.
Aku sudah lama belajar berdamai dengan pikiranku sendiri,
dengan mimpi yang kadang terasa lebih nyata dari kenyataan,
dengan cermin yang pernah memantulkan sosok yang nyaris tak kukenal.
Aku terapi. Aku minum obat. Aku bertahan.
Lalu hidup menjatuhkanku pelan-pelan.
Karier runtuh. Tubuh sakit. Dunia menyempit.
Dan aku belajar bahwa kuat pun punya batas.
Di forum ini, untuk pertama kalinya,
aku tidak perlu berpura-pura utuh.
Aku boleh menjadi wanita yang lelah,
yang ingin didengar,
yang ingin disentuh bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya.
Trade yang kubuka bukan sekadar transaksi.
Ia adalah upaya kecil untuk merasa hidup.
Untuk duduk di depan seseorang,
berbicara tanpa topeng,
dan di saat yang singkat itu menjadi manusia biasa.
Dan ternyata, aku tidak sendiri.
Banyak dari mereka datang dengan luka yang serupa.
Bukan karena nafsu semata,
tapi karena mereka juga kehilangan ruang aman.
Mereka membayar bukan untuk tubuhku,
melainkan untuk kehangatan,
untuk percakapan yang jujur,
untuk perasaan “aku dilihat”.
Aku bukan yang paling cantik.
Tubuhku tidak sempurna.
Tapi berkali-kali aku mendengar hal yang sama:
“Bersamamu, aku merasa tenang.”
Mungkin memang itu yang langka hari ini
bukan kecantikan,
tapi kehadiran.
Aku hanya mampu menerima satu orang dalam sehari.
Karena ini melelahkan.
Karena batin juga bisa habis.
Namun selama aku masih di sini,
aku ingin memberi dengan utuh.
Bukan karena uang.
Tapi karena aku tahu rasanya berada di sisi yang membayar
hanya untuk tidak merasa sendirian.
Tulisan ini bukan pembelaan.
Bukan pula pengakuan dosa.
Ini hanya catatan kecil dari seorang manusia
yang sedang belajar bertahan
di dunia yang terlalu sibuk untuk peduli.
Dan mungkin,
di balik semua ini,
kita semua hanya ingin satu hal yang sama:
ditemani,
meski sebentar.
Aku datang karena ada bagian dalam diriku yang lama kelaparan
kelaparan akan kehadiran.
Di luar, hidupku terlihat utuh.
Pendidikan ada. Pekerjaan ada. Keluarga pun baik-baik saja.
Tapi batinku sering kosong, seperti rumah yang lampunya menyala
namun tak ada orang di dalamnya.
Dulu, saat karierku berada di puncak,
kesepian itu bisa kubeli.
Dengan kopi mahal, perjalanan jauh,
dengan tawa di bar dan musik keras yang menenggelamkan sunyi.
Uang menjadi penutup yang rapi untuk lubang yang tak pernah sembuh.
Aku hidup dengan ADHD. Dengan depresi.
Aku sudah lama belajar berdamai dengan pikiranku sendiri,
dengan mimpi yang kadang terasa lebih nyata dari kenyataan,
dengan cermin yang pernah memantulkan sosok yang nyaris tak kukenal.
Aku terapi. Aku minum obat. Aku bertahan.
Lalu hidup menjatuhkanku pelan-pelan.
Karier runtuh. Tubuh sakit. Dunia menyempit.
Dan aku belajar bahwa kuat pun punya batas.
Di forum ini, untuk pertama kalinya,
aku tidak perlu berpura-pura utuh.
Aku boleh menjadi wanita yang lelah,
yang ingin didengar,
yang ingin disentuh bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya.
Trade yang kubuka bukan sekadar transaksi.
Ia adalah upaya kecil untuk merasa hidup.
Untuk duduk di depan seseorang,
berbicara tanpa topeng,
dan di saat yang singkat itu menjadi manusia biasa.
Dan ternyata, aku tidak sendiri.
Banyak dari mereka datang dengan luka yang serupa.
Bukan karena nafsu semata,
tapi karena mereka juga kehilangan ruang aman.
Mereka membayar bukan untuk tubuhku,
melainkan untuk kehangatan,
untuk percakapan yang jujur,
untuk perasaan “aku dilihat”.
Aku bukan yang paling cantik.
Tubuhku tidak sempurna.
Tapi berkali-kali aku mendengar hal yang sama:
“Bersamamu, aku merasa tenang.”
Mungkin memang itu yang langka hari ini
bukan kecantikan,
tapi kehadiran.
Aku hanya mampu menerima satu orang dalam sehari.
Karena ini melelahkan.
Karena batin juga bisa habis.
Namun selama aku masih di sini,
aku ingin memberi dengan utuh.
Bukan karena uang.
Tapi karena aku tahu rasanya berada di sisi yang membayar
hanya untuk tidak merasa sendirian.
Tulisan ini bukan pembelaan.
Bukan pula pengakuan dosa.
Ini hanya catatan kecil dari seorang manusia
yang sedang belajar bertahan
di dunia yang terlalu sibuk untuk peduli.
Dan mungkin,
di balik semua ini,
kita semua hanya ingin satu hal yang sama:
ditemani,
meski sebentar.














