Chapter 12
โข FORGIVENESS โข
Hal yg Dee bahas kali ini memang bukan salah satu jenis kesehatan mental, tapi kurang lebih berhubungan dengan inner self, sesuatu yang hampir sering kita lewatkan..
Memaafkan, forgiveness, hal yang terlihat sepele, justru membawa dampak yang berkepanjangan dalam diri.
Kita pasti sering ngelakuin kesalahan, baik itu ucapan atau perbuatan, apa yang kita lakukan? Kita meminta maaf terhadap orang2yang kita lukai.
Pernah ngalamin gak, satu dua kali orang yang secara gamblang mengatakan, "gak, gw gak maafin elo..! ", mungkin pernah, mungkin jarang, atau bahkan gk pernah sama sekali?
Mayoritas orang Indonesia adalah orang2yang "maklum", memaklumi segala bentuk kesalahan, ketika kita salah, minta maaf, lalu dimaafkan, selesai, tapi bagaimana kalau kita yang dimintai maaf oleh mereka? Kenapa hal remeh seperti ini bisa begitu destruktif?
Ini sedikit different POV yang bisa Dee gambarkan..
Forgiveness yang kita gak diajarin..
Semua orang nyuruh kamu untuk menjadi pemaaf. Tapi gk ada yang nanya..
"Lukanya masih berat gk buat kamu? "
Orang sering bilang, "maafin biar lega."
Tapi mereka lupa satu hal..
Maaf itu bukan tugas kamu buat nyelametin hati orang lain.
Maaf itu tentang kamu.
Dan apa yang kamu mau bawa pulang ke hidupmu.
Dan, "gak memaafkan" itu bukan berarti:

Pura-pura gak pernah disakitin,

Harus jadi yang "lebih bijak",

Atau kamu wajib nerima mereka lagi.
Orang boleh minta maaf, boleh berharap. Tapi tubuhmu yang menanggungnya, bukan mereka.
Semua orang sibuk nyuruh kamu " Ikhlasin".. Tapi mereka gak liat luka itu masih tinggal, menetap..
~ Di rahangmu yang nge lock,
~ Di bahumu yang gk pernah turun,
~ Direfleks takut yang gk kamu pilih.
Yang bilang "udah, lupain aja", biasanya bukan orang yang ngerasain gemetar itu.
Kamu bisa memaafkan dari jauh.
Kedamaian tetap sah, meski tanpa obrolan atau pertemuan.
Semua orang punya opini soal "memaafkan". Tapi kamu yang tau persis apa yang sakit.
Mulai dari:
โข Nyebutin apa yang benar-benar ngena,
โข Ngasih izin buat ngerasain perihnya,
โข Naruh batasan buat jaga kamu.
Lalu tanya, " Gimana rasanya kalau aku bebas dari ini semua?"
Kadang bukan sakitnya yang susah lepas, tapi peran yang diam-diam kamu terus pegang buat ngelindungin diri sendiri.
Pertanyaannya bukan "Dia pantas dapat kesempatan kedua gak?", tapi pertanyaan yang sering enggak kamu tanya "
Aku pantas nggak buat damai lagi?".
Mereka mungkin pantas, mungkin juga tidak, t
api kamu? Kamu selalu pantas dapat kesempatan kedua, bukan buat orang lain, tapi buat ketenanganmu sendiri.
Kita sering diajarin bahwa memaafkan itu soal menjadi orang baik. Padahal memaafkan itu lebih dekat dengan satu hal..
"
Mengambil kembali kendali dari rasa sakit yang lama menumpang di hidup di tubuhmu rasa sakit yang kamu simpan."
Bukan cuma kenangan yang di tumpuk di rahang, di bahu yang selalu kaku dan tegang, di cara kamu tiba-tiba waspada kalau ada nada suara tertentu. Tubuhmu ingat semua. Dan di titik tertentu, kamu harus nanya ke diri sendiri, "
Aku mau bawa rasa sakit ini sampai kapan?"
Forgiveness bukan tentang mereka.
Bukan tiket balik.
Bukan tanda kelembutan palsu.
Forgiveness itu kamu bilang ke diri sendiri "Udah cukup!"
"Aku mau damai lagi!"
Memaafkan bukan berarti orang itu pantas kesempatan kedua,
Tapi untuk kamu,
Kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua buat pulih, buat lembut lagi, buat hidup tanpa nahan napas tiap hari.
Pelan,
Tubuhmu lagi belajar aman lagi.
To be Honest, right now I'm not at my best conditions, I'm at my low level to tolerate things even the tiniest.. Right now I'm trying hard to forgive myself for every decision that i made, why I'm not brave enough to choose my self.. I'm trying not to be so hard on myself, i try to remember all the wound from the past, as i remember to forgive each one of them.. It's hard.. I know it's hard.. But i trust my self for the process.. Baby steps.. One at a time..
Do me a favor,
Go easy on yourself will you?
And choose yourself every single time, it's not selfish, it's self love.
Stay sane โค